Kemarin aku nonton sang pemimpi huhuhuhu
mengharukan….Walaupun muatan isinya agak jauh dari nopelnya tapi beribu2 lebih bagus dari pada film Indonesia laen yg hanya menonjolkan sisi sex, vulgar aja tidak mendidik sama sekali. Siapapun yg menonton sang pemimpi pasti akan termotivasi tergugah jiwanya. Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi mereka untuk meraih mimpi itu. Film ini memberi pesan akan pentingnya sebuah persahabatan seperti pada adegan seperti ini : Inget ga waktu jimbron ngasih 2 buah celengan kuda ke arai dan ikal, waktu itu ga dikasih liat pernah arai dan ikal ngetawain jimbron yang tergila-gila sama kuda sampe beli 2 celengan kuda segala!!!
Tapi mereka ga sadar itu untuk apa dan waktu mereka mau pergi barulah mereka sadar kenapa jimbron beli 2 celengan, karena dia tau daridulu kalo dia ga mungkin ikut mereka berdua pergi ke Paris, dan dia mempersiapkan celengan itu untuk jadi bekal mereka berdua, dan jumlahnya sama sungguh mengharukan keluguan dari Jimbron.huhuhuhu mengahrukan
Film ini layak tak kasih jempol
tak heraan jika Pada pemutaran sesi perdananya, film garapan sutradara Riri Riza itu, berhasil menyedot penonton hingga 130 ribu orang. Ayo maju terus perfilman Indonesia
Ini review singkat tentang film garapan sutradara Riri Riza ini![]()
Bermimpilah seperti Arai, Ikal dan Jimbron…
SUTRADARA: Riri Riza, PRODUSER: Mira Lesmana, PENULIS SKENARIO: Salman Aristo, PEMAIN: Zulfany (Ikal kecil), Vikri Setiawan (Ikal Remaja), Lukman Sardi (Ikal Dewasa), Ahmad Syafullah (Arai remaja), Ariel “Peterpan” (Arai dewasa), Azwir Fitrianto (Jimbron remaja), Mathias Muchus (Seman Saidi Harun), Nugie (Pak Balia), Landung Simatupang (Mustar), Maudy Ayunda ( Zakiah Nurmala).
“Kalau kita tak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati, Kal!”
Manggar 1985. Ucapan itu terlontar dari seorang anak yatim piatu dari kampung miskin di Belitong, Kepulauan Bangka Belitung, sana. Arai (Ahmad Syafullah), anak remaja itu, adalah anak istimewa. Dialah sang pemimpi. Ketika kemiskinan menjadi napas kehidupannya, tekad Arai tak pernah redup. Ia menjadi cahaya, ketika Ikal saudara angkat yang juga sahabat barunya, kehilangan mimpi, tatkala dibenturkan pada peristiwa-peristiwa nyata: kemiskinan.
Tapi itulah hebatnya Arai. Ia selalu punya mimpi yang menggelora dan tak terbendung. Ya, mimpi seorang anak Belitong, yang bercita-cita menginjakkan kakinya di kota ilmu. Sorbonne, Perancis.
Kota inilah yang terus menari-nari dalam benak mereka, menyalakan semangat Arai dan juga Ikal.
Tapi lihatlah kini. Impian itu seolah jadi bualan bagi Ikal dewasa (Lukman Sardi). Kalender menunjukkan tahun 1999. Ikal malah terdampar di sebuah rumah kosan sempit, di kawasan kampung yang padat di Bogor, Jawa Barat. Ia menjalani hari-harinya seorang diri. Tak ada Arai juga mimpi-mimpi itu.
Selepas lulus menjadi sarjana ekonomi di UI, Ikal malah terperosok menjadi pegawai di kantor pos. Padahal, inilah pekerjaan yang sangat dibencinya.
Peristiwa masa lalu yang menyakitkan, melahirkan kebencian itu. Ayahnya, Seman Saidi Harun (Mathias Muchus), dipromosikan untuk naik jabatan, setelah belasan tahun mengabdi di PN Timah. Kabar itu begitu menggembirakan Ikal dan ibunya (Rieke Dyah Pitaloka).
Pada sebuah hari yang dinanti itu, semua pegawai yang mendapatkan promosi jabatan berkumpul di ruang pertemuan. Menerima surat yang telah dikirim melalui kantor pos. Ikal hadir menemani ayahnya.
Satu per satu nama mereka disebut sesuai urutan abjad.
Sial, hingga abjad terakhir nama Saidi tak disebut-sebut. Saidi kecewa dan perasaan Ikal begitu terluka. Belakangan diketahui ternyata surat promosi pengangkatan ayahnya itu nyasar ke alamat orang.
Kisah inilah yang kembali menggelitik ingatan Ikal dewasa. Sebuah kenangan lama kembali muncul di ruang kamar kosannya yang lusuh. Ia mengumpat Arai yang terlalu membuainya dengan mimpi-mimpi dan kini dia malah hilang entah ke mana. Tapi di balik itu, Ikal begitu mengaguminya.
Ingatannya meloncat mengenang kembali pertemuan pertamanya dengan Arai dan Jimbron. Mereka tumbuh bersama menjalani masa remaja—yang kata Raja Dangdut Rhoma Irama—begitu berapi-api.
Menjalani hari-hari sebagai siswa SMA Negeri di Manggar, ibu kota Belitung Timur. Selepas itu, mereka bekerja demi mengumpulkan uang untuk bekal sekolah ke Jakarta, kemudian menggapai mimpi mereka bersekolah di Sorbonne. Bagi Ikal, masa inilah yang menjadi tonggak hidupnya. Ia bersyukur dipertemukan dua sahabat yang luar biasa, terlebih Arai.
Di mata Ikal, Arai adalah anak yang tangguh. Meski kadang suka bikin ulah, ia adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Ia bisa menyulap sesuatu yang busuk menjadi lebih menyenangkan.
Di Manggar, kisah itu terasa begitu indah. Perjalanan menuju masa remaja menjadi hidup yang menyenangkan. Ada cinta, persahabatan, petualangan juga proses pencarian jati diri.
Deretan kisah inilah yang menjadi benang merah dari film Sang Pemimpi, sekuel dari film Laskar Pelangi yang kisahnya diangkat dari novel karya Andrea Hirata dan difilmkan kembali oleh sutradara Riri Riza.
Jika di film sebelumnya, Laskar Pelangi menyisipkan kisah cinta monyet Ikal, kali ini bumbu asmara itu ditempatkan pada tokoh Arai. Ia terpikat teman wanita sekelasnya, Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda). Atau juga, kisah Jimbron yang jatuh hati pada Nurmi, gadis pembuat cingcau, yang kehilangan keceriaannya setelah menjadi yatim piatu. Sementara Ikal terpesona dengan bintang film seksi dari sebuah baliho yang bakal diputar di bioskop Manggar.
Sang Pemimpi, film yang menandainya hajatan Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2009, juga menyisipkan sebuah pesan moral yang dalam tentang kerukunan dan tolerasi beragama.
Gambaran inilah kuat tecermin dalam adegan saat pendeta Geovanny, orang tua asuh Jimbron, menginginkan Jimbron menjalani keyakinannya sebagai anak Muslim yang taat. Pendeta Geovanny-lah yang mengantar Jimbron saat belajar ngaji di di bawah bimbingan Teikong Hamim.
Sungguh kisah yang dahsyat. Salman Aristo kembali dipercaya meramu novel Andrea Hirata, dibantu Riri dan Mira. Arai menjadi tokoh sentral. Meski, banyak tokoh lainnya yang juga diberi porsi yang begitu menonjol. Mereka adalah orang-orang yang memberi energi terhadap tokoh Arai dan Ikal.
Mathias Muchus, yang memerankan ayah Ikal, mendapat takaran lumayan besar. Ini untuk memberi penekan bahwa di balik kesuksesan Ikal, ada sosok ayah yang begitu gigih menjadikan anaknya tangguh dan menghargai hidup. Akting Mathias Muchus benar-benar memberi energi pada film Sang Pemimpi.
Acungan jempol juga pantas diberikan kepada penyair dan aktor Landung Simatupang. Aktingnya begitu mumpuni kala memerankan tokoh Pak Mustar, kepala sekolah yang berwibawa, tegas, meski terkesan sangar dan killer. Begitu pula dengan Nugie, penyanyi yang dipercaya memerankan tokoh guru bernama Balia.
Ariel “Peterpan” meski tampil di ujung cerita, menjadi semacam gong. Suka atau tidak suka, aksi Ariel memang paling ditunggu. Pesonanya sebagai seorang bintang lengkap dengan ketenarannya, memberi bobot pada penampilan pertamanya kali ini.
Barangkali inilah kekuatan dari film Sang Pemimpi, ketika sebuah alur cerita yang kuat didukung berbagai elemen pendukung yang pas, baik dari segi pengadegan, soundtrack film, gambar-gambar yang apik, maka hasilnya pun terasa maknyus….
Sang Pemipi Catat Rekor
Film “Sang Pemimpi” berhasil mencatat rekor. Pada pemutaran sesi perdananya, film garapan sutradara Riri Riza itu, berhasil menyedot penonton hingga 130 ribu orang. Jumlah tersebut, diakui Mira Lesmana, produser film “Sang Pemimpi”, tergolong sangat tinggi.
“Iya, jumlah segitu besar banget,” ujar Mira Lesmana ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (4/1/2009).
Melengkapi prestasinya, film sekuel “Laskar Pelangi” juga telah menembus angka 1,8 juta penonton selama dirilis sejak 17 Desember lalu. “Target saya sebenarnya hanya 2 juta penonton, yang penting balik modal,” ujar Mira.
Dikatakan Mira, konsep pemutaran “Sang Pemimpi” direncanakan akan mengikuti pola yang dilakukan pada saat pemutaran “Laskar Pelangi”, yakni secara gratis di daerah-daerah terpencil. “Kita masih keliling ke berbagai kota untuk nonton bareng dengan layar tancap di Belitong karena enggak ada bioskop di sana. Kita masih akan terus keliling lagi ke 34 titik yang enggak ada bioskopnya,” terang Mira.
Sejauh ini, film yang di antaranya dibintangi “Lukman Sardi” dan Ariel “Peterpan” telah diputar di Dubai, Hongkong, dan Australia. “Antusias penonton yang masuk ke twitter dan facebook aku luar biasa, rata-rata mereka menonton empat sampai lima kali. Ada yang bilang terinspirasi jadi tambah semangat yang tadinya sudah malas untuk bercita-cita dan banyak yang bilang bahwa mengingatkan kembali betapa besar peran ayah untuk hidup, terutama kepada ayahnya yang sudah tidak ada. Beberapa guru bilang bahwa cara mengajar bapak Balia sangat menginspirasi mereka. Responnya sangat positif,” tuturnya.
Lebih jauh Mira menilai kesuksesan yang berhasil diraih “Laskar Pelangi” dengan “Sang Pemimpi” agak sedikit berbeda. “‘Laskar Pelangi” dulu diputar zaman kampanye. Sekarang saya mulai berpikir apakah mereka menonton karena kampanye?” ujarnya.
Gallery Foto Sang Pemimpi :







Sumber foto Kaskus
Ayo Jayalah Indonesia…….
Ayo Raih Mimpi-mimpimu……


Sedih, Lucu, Mengharukan semuanya jadi satu….
paling seneng liat Zakiah Nuramala/ wkwkwkwkwkkw
@lihinzz : iya nieh jd tersentuh,, bener2 film pembangun jiwa

sama suka zakiah nurmala jg bang
boleh…. yuk mimpi dulu… hehehe…
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
boleh nih…..beritanya…fotonya asli dari kamera sendiri atau dari mbah google nih???
sumber dari facebook sang pemimpi mas

makasih atas kunjungannya
ayux bermimpi
makasih atas kunjungannya
ops:
Sama2 sis zisya….
jangan lupa berkunjung lg sist
gila ? nie film bgus bgt . smpe nangis leadnya , ap lg pas ikal yg dawn untk brmimpi, n mrah sma arai gra2 mimpi arai yg ktnya gk mgkn org sprti mrka dpt brmimpi stinggi itu !!!
sosok arai memang mnginspirasi !!!
cutenya gk k tulunggan !!
@fitri : iya sama juga sis,, jd termotivasi aku